19 mins read

Webinar Seri 3: Perjalanan FK-UGM antara tahun 1975 – 2000: Sebuah Transisi dari Sekolah Kedokteran di Pedalaman Menjadi Kampus Internasional Bidang Kesehatan

Pengantar

Perkembangan FK-UGM di masa kelahiran dapat dibaca dari berbagai buku tentang perpindahan GHS ke pedalaman Jawa Tengah, tepatnya ke Klaten di RS yang saat ini dikenal sebagai RS Soeradji Tirtonegoro antara tahun 1946 – 1949. Sebuah perjalanan heroik untuk perjuangan. Selanjutnya kampus berada di seputar Kraton karena Sri Sultan HB IX berkenan memberikan tempat untuk perkuliahan di berbagai gedung di dalam kompleks Kraton Yogyakarta. Termasuk kandang kuda.  Kemudian, antara tahun 1949 hingga 1979, pendidikan berada di kompleks Kraton di Ngasem. Selanjutnya pada akhir dekade 1970-an berangsur pindah ke Sekip, di bekas lapangan tembak Belanda di utara Kota Yogyakarta. Berbagai tulisan telah ditulis mengenai perkembangan di masa berada di Kraton. Namun tidak banyak tulisan berada dalam masa tahun 1975 – 2000an, saat FK UGM mengembangkan diri di kampus baru.

Pada periode 1975 – 2000, FK UGM berada dalam fase transisi besar. Dari sebuah fakultas yang dulu dianggap masih berada di pedalaman dan dianggap udik, FK UGM mulai berubah menjadi lebih bersifat internasional. Saat 1970-an, di Indonesia terdapat dua FK yang dianggap sebagai institusi terdepan, yakni FK Universitas Indonesia (UI) yang berasal dari Geneeskundige Hoogeschool (GHS) dan FK Universitas Airlangga yang berakar dari Nederlands Indische Artsen School (NIAS). Kemampuan klinik ke-2 FK ini sangat tinggi, di atas rata-rata FK-FK lain di Indonesia karena mempunyai RS Pendidikan yang sangat besar: RSCM di Jakarta dan RS Soetomo di Surabaya. FK UGM memiliki sejarah berbeda, berawal dari “pengungsian” para ilmuwan kedokteran dari Jakarta yang mencari tempat untuk tetap menjalankan pendidikan di tengah kondisi yang serba terbatas, di kampus Ngasem. RS-RS pendidikan milik UGM tersebar, kecil-kecil di sekitar Kraton. RS Sardjito sebagai RS pusat Departemen Kesehatan, yang menjadi gabungan dari RS-RS milik UGM baru berdiri pada 1973.

Keterbatasan sarana dan prasarana fisik kampus dan RS pendidikan disadari menjadi penghalang perkembangan FK UGM. Fasilitas di Kraton hanyalah sementara, walaupun berlangsung hingga lebih dari 25 tahun. Pada 1970 mulai dilakukan pembangunan fisik kampus baru FK UGM di dekat area RS Sardjito. Dengan pindahnya fasilitas fisik ke Sekip pada 1970-an, termasuk telah berjalannya RSUP Dr. Sardjito terjadi dorongan kuat kemajuan. Dalam periode perpindahan ini perlu dikaji bagaimana perkembangan sumber daya manusia, khususnya dosen.

Pada dekade 1960-an, dosen-dosen FK-UGM bergelar Prof banyak berasal dari kelompok pra-klinik, dengan tokoh-tokoh besar antara lain: alm. Prof. Ahmad Muhammad, alm Prof. Ismadi, alm. Prof. Swasono, alm Prof. Sudjono Aswin, dan alm. Prof. T. Jacob yang sangat dihormati di tingkat nasional dan internasional. Juga Prof. Ismangun SpA dari departemen klinik. Kekuatan profesor UGM banyak pada bidang anatomi, biokimia, dan antropologi ragawi, yang menjadi pondasi utama pendidikan kedokteran. Namun masih jarang dosen FK-UGM yang mempunyai pendidikan S3 di luar negeri. Yang tercatat adalah Prof T. Jacob mempunyai gelar S3 dari luar negeri.

Memasuki dekade 1970-an, mulai terjadi perubahan signifikan dengan adanya program pengembangan staf dosen yang didukung oleh Rockefeller Foundation. Fakultas Kedokteran UGM mengirim para klinisi dan staf Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM) ke Amerika Serikat untuk menempuh pendidikan lebih lanjut. Pendidikan  terutama berada di topik-topik epidemiologi dan kesehatan masyarakat. Dosen-dosen klinik yanbg dikirim juga berada di topik yang dekat dengan kesehatan masyarakat. Periode ini dapat dianggap sebagai awal mula internasionalisasi FK UGM secara nyata. Ketika kelompok ini kembali pada awal 1980-an, mereka membawa berbagai inovasi yang kemudian menjadi tonggak penting dalam perubahan pendidikan kedokteran. 

Ada berbagai perkembangan kegiatan berskala internasional yang tercatat, antara lain: Dr. Rossi Sanusi mengembangkan CCHC (PPKK) sebagai pelopor pendidikan dokter berbasis Problem-Based Learning (PBL). Dr. Budiono Santoso membangun farmakologi klinik, sebelum akhirnya bergabung dengan WHO West Pacific Region di Manila. Alm. Prof. Ahmad Surjono, Sp.A(K) memimpin pengembangan maternal perinatal, sementara Alm.Prof. Tonny Sadjimin dan Prof Moch Hakimi membentuk Clinical Epidemiology and Biostatistics Unit (CEBU), yang terhubung dengan jaringan internasional INCLEN. Dekan FK-UGM saat itu alm. Dr. Radjiman, seorang ahli histologi yang sangat ramah dan bersikap supportive untuk dosen muda. Seorang dekan dengan figur yang sangat kebapakan. Kelompok ini merupakan generasi pertama yang dikirim ke luar negeri dalam jumlah yang cukup banyak sehingga membuat perubahan signifikan setelah kembali ke tanah air. Sebagai catatan, walaupun para dosen tersebut adalah para klinisi. bidang s3 yang ditempuh adalah di ranah kesehatan masyarakat seperti epidmiologi dan statistik.

Memasuki dekade 1980-an, banyak dosen muda yang berusia akhir 20-an hingga awal 30-an, khususnya dari Bagian IKM, dikirim ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan. Dengan dukungan berbagai lembaga seperti HEDERA, Proyek Pusat Antar Universitas (PAU) Bank Dunia, Rockefeller Foundation, dan SIDA. Mereka tersebar ke berbagai negara, mulai dari Amerika Serikat, Australia, Inggris, hingga Swedia. Sebagian besar memang dari Bagian IKM, antara lain: dr. Hari Purnomo, dr Hari Kusnanto, dr. Siswanto Agus Wilopo, dr. Laksono Trisnantoro, dr. Mubassyir Hasan Basri, dr. Adi Utarini, dr. Ova Emilia, dan dr. Detty dari bagian Obsgin. Selanjutnya dari Departemen Farmakologi banyak yang dikirim seperti dr. Iwan Dwi Prahasto, dr Mustofa. Juga ada yang dikirim dari bagian-bagian pre klinik seperti dr Sofia Mubarika.  Tiga puluh tahun kemudian generasi ini banyak yang menjadi Profesor senior di UGM. Dalam pengembangan staf dosen, transisi yang ada dapat digambarkan sebagai berikut:

Generasi ini secara bertahap kembali ke UGM pada akhir 1980-an hingga akhir 1990-an, membawa ilmu-ilmu dan perspektif baru yang semakin memperkuat FK UGM dalam jejaring akademi internasional. Perkembangan mencolok terjadi di Prodi S2 IKM yang mengembangkan berbagai minat sesuai dengan kebutuhan sistem kesehatan dalam ilmu manajemen dan kebijakan kesehatan, dengan minat Magister Manajemen Rumahsakit, dan minat-minat lainnya. Terjadi perubahan pola pemasukan dana untuk FK UGM. Mulai berkembang berbagai sumber pendanaan yang lebih berkelanjutan, tidak hanya proyek dengan dana luar negeri yang mempunyai keterbatasan waktu. Perkembangan S2 IKM ini kemudian berkembang dan menghasilkan perubahan di bagian IKM. Dari satu bagian, berkembang menjadi 3 Departemen: (1) Epidemiologi, Biostatistik, dan Kesehatan Populasi; (2) Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan; dan (3) Departemen Perilaku, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial.

Periode 1975 – 2000 ini menarik untuk dibahas dalam rangka Dies FK-KMK UGM. Berbagai informasi perlu digali untuk pelajaran bagi masa depan FK-UGM yang saat ini sudah berubah menjadi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM. Tujuan pertemuan adalah:

  1. Membahas pengalaman pelaku-pelaku dalam masa di tahun 1970an – 2000 yang telah menulis buku dalam konteks internasionalisasi FK-UGM. Pada 2025 telah terbit 2 buku yang membahas langsung atau tidak langsung, suasana di masa transisi tersebut.
  2. Memberikan ide awal untuk penulisan sejarah organisasi FK UGM yang berkembang dari sekolah kedokteran di pedalaman menjadi pusat pendidikan dengan taraf internasional. Dalam transisi ini, peranan ilmu kesehatan masyarakat sangat dominan yang perlu dibahas mengapa terjadi dan apa yang membuatnya berkembang. Diharapkan pertemuan ini dapat menarik perhatian para peneliti sejarah fakultas kedokteran untuk melihat sebuah transisi menuju ke internasionalisasi lembaga.
  3. Membahas pengalaman untuk perencanaan FK-KMK UGM ke masa depan yang penuh tantangan. Diharapkan ada lesson-learnt dari pengalaman masa lalu untuk perbaikan perencanaan fakultas kedokteran.

Pembicara dalam pertemuan ini adalah 2 penulis buku terkait dengan suasana kampus FK UGM (yang memaparkan dari sudut pandang masing-masing), sebagai pelaku aktif di periode antara 1975 – 2000. Pembicaranya adalah:

  1. Budiono Santoso Setradjaja, PhD, SpFK: membangun jaringan internasional farmakologi.
    Penulis buku: Surat dari Yogya. Cetakan 1: 2025. Yayasan Sawoto Tino Triatmo.
  2. Laksono Trisnantoro MSc. PhD: mengembangkan keilmuan dan ketahanan finansial FK UGM dengan pendekatan toko kelontong dengan bechmarking universitas di Inggris.
    Penulis buku: Pengayaan Ilmu Kedokteran untuk mengatasi Masalah Klinis dan Kesehatan Masyarakat. Cetakan 2: 2025. Gadjah Mada University Press.

Pengantar dan Pembahas:

Dr. Abdul Wahid, M.Hum., M.Phil, Fakultas Ilmu Budaya jurusan Sejarah UGM

Hari, tanggal              : Rabu 4 Maret 2026

Pukul                           : 15.30 – 17.15 WIB

Tempat                       : Common Room, Gedung Litbang FK-KMK UGM

Waktu (WIB)AcaraPIC
15.30-15.35PembukaanMC
15.35-15.45PengantarDr. Abdul Wahid, M.Hum., M.Phil
15.45-16.05Membangun jaringan internasional farmakologi.

dr. Budiono Santoso Setradjaja, PhD, SpFK

MATERI

16.05-16.25Mengembangkan keilmuan dan ketahanan finansial FK UGM dengan pendekatan toko kelontong dengan bechmarking universitas di Inggris

Prof. dr. Laksono Trisnantoro MSc. PhD

MATERI

16.25-16.35Pembahasan

Dr. Abdul Wahid, M.Hum., M.Phil

MATERI

16.35-16.55DiskusiModerator
16.55-17.00Closing statementProf. dr. Laksono Trisnantoro MSc. PhD
17.00-17.05PenutupanMC

PKMK-Yogyakarta. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menyelenggarakan seri ketiga webinar refleksi sejarah perjalanan institusi tersebut. Webinar bertajuk “Perjalanan FK-UGM antara tahun 1975 hingga 2000: Sebuah transisi dari sekolah kedokteran di pedalaman menjadi kampus internasional bidang kesehatan”. Webinar tersebut menghadirkan para pelaku sejarah yang secara langsung mengalami proses transformasi lembaga tersebut. Kegiatan ini dipandu oleh Aulia Putri Hijriyah, S. Sej. selaku moderator dan diikuti peserta yang hadir secara langsung di Gedung Litbang FK-KMK UGM dan Zoom Meeting. Webinar ini menjadi ruang refleksi untuk memahami perjalanan panjang FK-UGM dalam membangun pendidikan kedokteran yang bukan hanya berkembang secara akademik, melainkan juga memiliki kontribusi sosial yang kuat bagi masyarakat Indonesia. Diskusi menelusuri bagaimana institusi yang pada awalnya berkembang dalam keterbatasan infrastruktur dan sumber daya mampu bertransformasi menjadi salah satu pusat pendidikan kesehatan yang memiliki reputasi nasional dan internasional.

Pengantar — Dr. Abdul Wahid, M.Hum., M.Phil.

Pengantar diskusi disampaikan oleh Dr. Abdul Wahid dari Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya UGM. Wahid menekankan bahwa webinar ini memiliki makna strategis dalam rangkaian peringatan 80 tahun FK-KMK UGM. Menurutnya, cara terbaik untuk merayakan perjalanan sebuah institusi bukan hanya dengan seremoni, tetapi melalui refleksi kritis terhadap sejarahnya. Narasumber menjelaskan bahwa saat ini tim sejarah tengah menyusun buku mengenai perjalanan FK-KMK UGM dengan tema utama “Merajut Kedokteran dan Kesehatan Kerakyatan.” Tema ini dipilih karena selama delapan dekade, FK-UGM dipandang memiliki karakter khas dalam mengembangkan pendidikan kedokteran yang berpihak pada kebutuhan masyarakat luas. Konsep kedokteran kerakyatan dipandang sebagai gagasan besar yang menjiwai berbagai aktivitas Tri Dharma Perguruan Tinggi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Nilai tersebut telah berkembang sejak masa awal berdirinya institusi di Klaten hingga menjadi fakultas kedokteran yang memiliki pengaruh luas di tingkat nasional. Wahid juga menyoroti pentingnya penggunaan pendekatan memoar dalam memahami sejarah institusi. Memoar memungkinkan para pelaku sejarah menyampaikan pengalaman personal, refleksi, serta interpretasi terhadap peristiwa yang mereka alami. Bagi sejarawan, sumber seperti ini sangat berharga karena sering kali memuat informasi yang tidak tercatat dalam dokumen resmi. Melalui webinar ini, peserta diharapkan dapat memahami perjalanan FK-UGM bukan hanya sebagai rangkaian peristiwa institusional, tetapi sebagai pengalaman kolektif yang membentuk identitas akademik dan sosial lembaga tersebut

VIDEO  

Membangun jaringan internasional farmakologi dr. Budiono Santoso Setradjaja, PhD, SpFK

Dalam sesi pemaparan, dr. Budiono Santoso membagikan refleksi mengenai perjalanan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada selama beberapa dekade. Budiono menegaskan bahwa paparannya bukan untuk menonjolkan pencapaian pribadi, melainkan untuk merefleksikan perjalanan institusi yang pernah beliau alami. Narasumber mengenang masa studinya di kompleks Mangkubumi dan Ngasem pada periode 1969–1975, ketika FK-UGM masih berkembang dalam kondisi yang serba terbatas baik dari sisi fasilitas pendidikan, sarana penelitian, maupun jumlah tenaga akademik berkualifikasi tinggi. Namun, keterbatasan tersebut justru membentuk semangat belajar dan daya juang yang kuat di kalangan civitas akademika. Setelah menyelesaikan pendidikan dokter di UGM, Budiono melanjutkan studi doktoral di Newcastle University, Inggris. Pengalaman tersebut memperkaya perspektifnya mengenai pengembangan pendidikan dan penelitian kedokteran. Sekembalinya ke Indonesia, Budiono kembali bergabung sebagai staf akademik di FK-UGM dan berperan dalam pengembangan farmakologi klinis, termasuk sebagai kepala laboratorium farmakologi klinik, sebelum kemudian berkarier di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Manila sebagai regional adviser di bidang informasi obat dan teknologi kesehatan.

Dalam refleksinya, Budiono menjelaskan bahwa transformasi FK-UGM berlangsung melalui proses panjang. Perjalanan tersebut dimulai dari masa awal pendidikan kedokteran di Klaten pada akhir 1940-an dalam kondisi yang sangat terbatas, kemudian berlanjut pada fase konsolidasi di kompleks Mangkubumi dan Ngasem dengan dukungan Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Perkembangan selanjutnya terjadi ketika berbagai bagian akademik berpindah ke kawasan Karangmalang dan Sekip pada akhir 1960-an hingga 1980-an, yang menandai pembangunan kampus yang lebih modern dan penguatan kegiatan pendidikan serta penelitian. Memasuki pertengahan 1990-an, FK-UGM mulai memperluas jejaring kerja sama internasional dan meningkatkan kapasitas penelitian. Pada fase ini, fakultas bertransformasi dari kampus dengan sumber daya terbatas menjadi pusat pendidikan kesehatan yang memiliki pengaruh nasional dan mulai diakui secara internasional. Menurut Budiono, keberanian untuk bersaing di tingkat global justru lahir dari pengalaman panjang menghadapi keterbatasan pada masa awal pembangunan institusi. Beliau juga menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi pendidikan kedokteran pada dekade 1970–1980-an, seperti terbatasnya jumlah profesor, fasilitas penelitian yang sederhana, serta minimnya pendanaan penelitian. Bahkan, beberapa dosen yang melanjutkan studi ke luar negeri mengalami kesulitan ketika kembali karena belum tersedia fasilitas penelitian yang memadai. Namun demikian, kondisi tersebut justru mendorong semangat inovasi dan kolaborasi. Melalui penguatan jejaring internasional, peningkatan kapasitas penelitian, serta reformasi kurikulum secara bertahap, FK-UGM akhirnya berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan kesehatan yang berkontribusi penting bagi perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat di Indonesia.

MATERI    VIDEO  

Mengembangkan keilmuan dan ketahanan finansial FK UGM dengan pendekatan toko kelontong dengan bechmarking universitas di Inggris Prof. dr. Laksono Trisnantoro MSc. PhD

Pada sesi selanjutnya, Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD memaparkan refleksinya mengenai perjalanan pengembangan keilmuan serta ketahanan finansial di Fakultas Kedokteran UGM. Berangkat dari pengalaman panjangnya sebagai akademisi dan pengelola institusi, Prof Laksono menyoroti bagaimana fakultas harus terus beradaptasi menghadapi perubahan lingkungan pendidikan tinggi yang semakin kompetitif. Dalam pemaparannya, beliau memperkenalkan metafora yang cukup unik, yaitu “pendekatan toko kelontong” dalam pengelolaan fakultas. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan strategi pengembangan institusi yang bersifat pragmatis, adaptif, dan bertahap. Seperti halnya toko kelontong yang mampu bertahan karena menjual berbagai kebutuhan masyarakat secara fleksibel, fakultas juga perlu mengembangkan berbagai aktivitas akademik dan layanan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat serta perkembangan ilmu pengetahuan. Menurut Prof Laksono, pendekatan ini bukan berarti mengurangi kualitas akademik, tetapi justru menekankan pentingnya diversifikasi sumber daya dan inovasi dalam pengembangan institusi. Fakultas tidak hanya bergantung pada satu sumber pembiayaan atau satu jenis kegiatan akademik, melainkan mengembangkan berbagai program pendidikan, penelitian, pelatihan, dan kerja sama yang dapat memperkuat keberlanjutan finansial lembaga. Dalam konteks tersebut, Prof Laksono juga menyinggung pentingnya benchmarking dengan universitas-universitas di Inggris, yang sejak lama dikenal memiliki sistem pengelolaan pendidikan tinggi yang relatif mandiri dan inovatif. Pengalaman universitas di Inggris menunjukkan bahwa keberhasilan institusi tidak hanya ditentukan oleh reputasi akademik, tetapi juga oleh kemampuan mengelola sumber daya secara efektif, membangun jaringan internasional, serta mengembangkan berbagai bentuk kolaborasi dengan sektor publik maupun swasta.

Prof. Laksono menekankan bahwa bagi fakultas kedokteran di negara berkembang seperti Indonesia, ketahanan finansial menjadi aspek yang semakin penting. Tantangan pendidikan kedokteran modern meliputi kebutuhan fasilitas penelitian yang mahal, pengembangan teknologi pembelajaran, serta tuntutan internasionalisasi pendidikan. Oleh karena itu, institusi perlu mengembangkan strategi pengelolaan yang kreatif tanpa meninggalkan nilai-nilai akademik dan pengabdian kepada masyarakat. Pihaknya juga mengingatkan bahwa penguatan institusi harus selalu berakar pada misi sosial pendidikan kedokteran. Dalam perspektif FK-UGM, pengembangan keilmuan dan keberlanjutan finansial bukan semata-mata bertujuan memperbesar institusi, tetapi untuk memastikan bahwa fakultas mampu terus berkontribusi dalam peningkatan kesehatan masyarakat serta pembangunan sistem kesehatan di Indonesia.

Melalui refleksi tersebut, Prof. Laksono menegaskan bahwa perjalanan FK-UGM menunjukkan pentingnya kombinasi antara visi akademik, kepemimpinan institusional, serta kemampuan adaptasi terhadap perubahan lingkungan pendidikan tinggi global.

MATERI   VIDEO  

Pembahasan — Dr. Abdul Wahid, M.Hum., M.Phil.

Sebagai pembahas dalam sesi ini, Dr. Abdul Wahid memberikan refleksi terhadap paparan kedua narasumber dengan menempatkannya dalam perspektif sejarah institusi. Menurutnya, cerita yang disampaikan oleh para narasumber tidak hanya menggambarkan perjalanan individu, tetapi juga merupakan potongan penting dari sejarah perkembangan FK-UGM sebagai institusi pendidikan kesehatan di Indonesia. Dr. Wahid menekankan bahwa pengalaman personal para akademisi sering kali menjadi sumber yang sangat berharga untuk memahami dinamika sejarah lembaga. Banyak aspek perkembangan institusi seperti proses pengambilan keputusan, dinamika kepemimpinan, hingga tantangan pengembangan akademik yang tidak selalu tercatat dalam dokumen resmi, tetapi justru muncul melalui refleksi pengalaman para pelaku yang terlibat langsung di dalamnya. Beliau juga menyoroti bahwa perjalanan FK-UGM memperlihatkan transformasi yang tidak sederhana. Perubahan dari kampus dengan sumber daya terbatas menuju institusi pendidikan kesehatan yang memiliki reputasi nasional dan internasional merupakan proses panjang yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kepemimpinan akademik, dukungan kebijakan, serta kemampuan adaptasi terhadap perubahan lingkungan pendidikan tinggi.

Dalam konteks tersebut, Dr. Wahid menilai bahwa refleksi yang disampaikan oleh dr. Budiono Santoso dan Prof. Laksono Trisnantoro memberikan gambaran yang saling melengkapi mengenai perkembangan FK-UGM. Pengalaman dr. Budiono memperlihatkan dinamika pembangunan kapasitas akademik dan penelitian dalam kondisi yang terbatas, sementara paparan Prof. Laksono menyoroti strategi penguatan institusi, termasuk pengembangan jejaring dan ketahanan finansial. Lebih jauh, beliau menegaskan bahwa pembacaan terhadap sejarah institusi tidak hanya penting sebagai dokumentasi masa lalu, tetapi juga sebagai bahan pembelajaran bagi generasi akademisi berikutnya. Melalui refleksi sejarah, institusi dapat memahami bagaimana nilai-nilai dasar, strategi pengembangan, serta budaya akademik terbentuk dan berkembang dari waktu ke waktu. Menurut Dr. Wahid, salah satu pelajaran penting dari perjalanan FK-UGM adalah kemampuan institusi untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan orientasi pada misi sosial pendidikan kedokteran. Nilai kedokteran kerakyatan yang menjadi karakter khas FK-UGM menunjukkan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan dan institusi akademik harus selalu berhubungan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, sesi pembahasan ini menegaskan bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi juga sumber refleksi yang dapat membantu institusi merumuskan arah perkembangan di masa depan.

MATERI   VIDEO  

Sesi Diskusi

Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dan tanggapan dari peserta yang mengikuti kegiatan secara langsung maupun daring. Diskusi banyak menyoroti bagaimana pengalaman historis FK-UGM dapat menjadi sumber pembelajaran bagi pengembangan pendidikan kedokteran di masa depan. Beberapa peserta menanyakan bagaimana fakultas mampu berkembang dari kondisi sarana yang sangat terbatas menjadi institusi dengan reputasi nasional dan internasional, serta apa faktor kunci yang memungkinkan transformasi tersebut. Dalam merespons hal tersebut, para narasumber menekankan pentingnya kepemimpinan akademik, keberanian untuk membangun jejaring internasional, serta kemampuan institusi beradaptasi dengan perubahan lingkungan pendidikan tinggi. Selain itu, diskusi juga menyinggung pentingnya mendokumentasikan pengalaman para akademisi melalui tulisan atau memoar agar perjalanan institusi tidak hilang dari ingatan kolektif. Melalui dialog tersebut, sesi diskusi menegaskan bahwa memahami sejarah perkembangan FK-UGM bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga menjadi landasan reflektif untuk merumuskan strategi pengembangan pendidikan kesehatan yang lebih kuat dan berkelanjutan di masa mendatang.

Penutup

Webinar ini menegaskan bahwa perjalanan FK-UGM merupakan kisah transformasi institusi yang panjang dan penuh dinamika. Dari kampus yang berkembang dalam keterbatasan di pedalaman, FK-UGM berhasil membangun reputasi sebagai pusat pendidikan kesehatan yang memiliki pengaruh luas. Refleksi sejarah yang disampaikan dalam webinar ini menunjukkan bahwa keberhasilan institusi tidak hanya ditentukan oleh sumber daya, tetapi juga oleh visi, nilai, serta komitmen kolektif para akademisinya. Dalam konteks pendidikan kesehatan di Indonesia, pengalaman FK-UGM memperlihatkan bahwa pengembangan institusi akademik harus tetap berakar pada nilai-nilai kemanusiaan dan keberpihakan pada masyarakat. Dengan menjadikan sejarah sebagai sumber pembelajaran, FK-UGM diharapkan terus berkontribusi dalam membangun sistem kesehatan yang lebih kuat, adil, dan berkelanjutan.

  VIDEO  

Reporter:
Fadliana Hidayatu Rizky Uswatun Hasanah, S.Tr.Keb., MHPM