Webinar Seri 3: Perjalanan FK-UGM antara tahun 1975 – 2000: Sebuah Transisi dari Sekolah Kedokteran di Pedalaman Menjadi Kampus Internasional Bidang Kesehatan
Pengantar
Perkembangan FK-UGM di masa kelahiran dapat dibaca dari berbagai buku tentang perpindahan GHS ke pedalaman Jawa Tengah, tepatnya ke Klaten di RS yang saat ini dikenal sebagai RS Soeradji Tirtonegoro antara tahun 1946 – 1949. Sebuah perjalanan heroik untuk perjuangan. Selanjutnya kampus berada di seputar Kraton karena Sri Sultan HB IX berkenan memberikan tempat untuk perkuliahan di berbagai gedung di dalam kompleks Kraton Yogyakarta. Termasuk kandang kuda. Kemudian, antara tahun 1949 hingga 1979, pendidikan berada di kompleks Kraton di Ngasem. Selanjutnya pada akhir dekade 1970-an berangsur pindah ke Sekip, di bekas lapangan tembak Belanda di utara Kota Yogyakarta. Berbagai tulisan telah ditulis mengenai perkembangan di masa berada di Kraton. Namun tidak banyak tulisan berada dalam masa tahun 1975 – 2000an, saat FK UGM mengembangkan diri di kampus baru.
Pada periode 1975 – 2000, FK UGM berada dalam fase transisi besar. Dari sebuah fakultas yang dulu dianggap masih berada di pedalaman dan dianggap udik, FK UGM mulai berubah menjadi lebih bersifat internasional. Saat 1970-an, di Indonesia terdapat dua FK yang dianggap sebagai institusi terdepan, yakni FK Universitas Indonesia (UI) yang berasal dari Geneeskundige Hoogeschool (GHS) dan FK Universitas Airlangga yang berakar dari Nederlands Indische Artsen School (NIAS). Kemampuan klinik ke-2 FK ini sangat tinggi, di atas rata-rata FK-FK lain di Indonesia karena mempunyai RS Pendidikan yang sangat besar: RSCM di Jakarta dan RS Soetomo di Surabaya. FK UGM memiliki sejarah berbeda, berawal dari “pengungsian” para ilmuwan kedokteran dari Jakarta yang mencari tempat untuk tetap menjalankan pendidikan di tengah kondisi yang serba terbatas, di kampus Ngasem. RS-RS pendidikan milik UGM tersebar, kecil-kecil di sekitar Kraton. RS Sardjito sebagai RS pusat Departemen Kesehatan, yang menjadi gabungan dari RS-RS milik UGM baru berdiri pada 1973.
Keterbatasan sarana dan prasarana fisik kampus dan RS pendidikan disadari menjadi penghalang perkembangan FK UGM. Fasilitas di Kraton hanyalah sementara, walaupun berlangsung hingga lebih dari 25 tahun. Pada 1970 mulai dilakukan pembangunan fisik kampus baru FK UGM di dekat area RS Sardjito. Dengan pindahnya fasilitas fisik ke Sekip pada 1970-an, termasuk telah berjalannya RSUP Dr. Sardjito terjadi dorongan kuat kemajuan. Dalam periode perpindahan ini perlu dikaji bagaimana perkembangan sumber daya manusia, khususnya dosen.
Pada dekade 1960-an, dosen-dosen FK-UGM bergelar Prof banyak berasal dari kelompok pra-klinik, dengan tokoh-tokoh besar antara lain: alm. Prof. Ahmad Muhammad, alm Prof. Ismadi, alm. Prof. Swasono, alm Prof. Sudjono Aswin, dan alm. Prof. T. Jacob yang sangat dihormati di tingkat nasional dan internasional. Juga Prof. Ismangun SpA dari departemen klinik. Kekuatan profesor UGM banyak pada bidang anatomi, biokimia, dan antropologi ragawi, yang menjadi pondasi utama pendidikan kedokteran. Namun masih jarang dosen FK-UGM yang mempunyai pendidikan S3 di luar negeri. Yang tercatat adalah Prof T. Jacob mempunyai gelar S3 dari luar negeri.
Memasuki dekade 1970-an, mulai terjadi perubahan signifikan dengan adanya program pengembangan staf dosen yang didukung oleh Rockefeller Foundation. Fakultas Kedokteran UGM mengirim para klinisi dan staf Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM) ke Amerika Serikat untuk menempuh pendidikan lebih lanjut. Pendidikan terutama berada di topik-topik epidemiologi dan kesehatan masyarakat. Dosen-dosen klinik yanbg dikirim juga berada di topik yang dekat dengan kesehatan masyarakat. Periode ini dapat dianggap sebagai awal mula internasionalisasi FK UGM secara nyata. Ketika kelompok ini kembali pada awal 1980-an, mereka membawa berbagai inovasi yang kemudian menjadi tonggak penting dalam perubahan pendidikan kedokteran.
Ada berbagai perkembangan kegiatan berskala internasional yang tercatat, antara lain: Dr. Rossi Sanusi mengembangkan CCHC (PPKK) sebagai pelopor pendidikan dokter berbasis Problem-Based Learning (PBL). Dr. Budiono Santoso membangun farmakologi klinik, sebelum akhirnya bergabung dengan WHO West Pacific Region di Manila. Alm. Prof. Ahmad Surjono, Sp.A(K) memimpin pengembangan maternal perinatal, sementara Alm.Prof. Tonny Sadjimin dan Prof Moch Hakimi membentuk Clinical Epidemiology and Biostatistics Unit (CEBU), yang terhubung dengan jaringan internasional INCLEN. Dekan FK-UGM saat itu alm. Dr. Radjiman, seorang ahli histologi yang sangat ramah dan bersikap supportive untuk dosen muda. Seorang dekan dengan figur yang sangat kebapakan. Kelompok ini merupakan generasi pertama yang dikirim ke luar negeri dalam jumlah yang cukup banyak sehingga membuat perubahan signifikan setelah kembali ke tanah air.
Memasuki dekade 1980-an, banyak dosen muda yang berusia akhir 20-an hingga awal 30-an, khususnya dari Bagian IKM, dikirim ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan. Dengan dukungan berbagai lembaga seperti HEDERA, Proyek Pusat Antar Universitas (PAU) Bank Dunia, Rockefeller Foundation, dan SIDA. Mereka tersebar ke berbagai negara, mulai dari Amerika Serikat, Australia, Inggris, hingga Swedia. Sebagian besar memang dari Bagian IKM, antara lain: dr. Hari Purnomo, dr Hari Kusnanto, dr. Siswanto Agus Wilopo, dr. Laksono Trisnantoro, dr. Mubassyir Hasan Basri, dr. Adi Utarini, dr. Ova Emilia, dan dr. Detty dari bagian Obsgin. Selanjutnya dari Departemen Farmakologi banyak yang dikirim seperti dr. Iwan Dwi Prahasto, dr Mustofa. Juga ada yang dikirim dari bagian-bagian pre klinik seperti dr Sofia Mubarika. Tiga puluh tahun kemudian generasi ini banyak yang menjadi Profesor senior di UGM.
Generasi ini secara bertahap kembali ke UGM pada akhir 1980-an hingga akhir 1990-an, membawa ilmu-ilmu dan perspektif baru yang semakin memperkuat FK UGM dalam jejaring akademi internasional. Perkembangan mencolok terjadi di Prodi S2 IKM yang mengembangkan berbagai minat sesuai dengan kebutuhan sistem kesehatan dalam ilmu manajemen dan kebijakan kesehatan, dengan minat Magister Manajemen Rumahsakit, dan minat-minat lainnya. Terjadi perubahan pola pemasukan dana untuk FK UGM. Mulai berkembang berbagai sumber pendanaan yang lebih berkelanjutan, tidak hanya proyek dengan dana luar negeri yang mempunyai keterbatasan waktu.Dalam pengembangan staf dosen, transisi yang ada dapat digambarkan sebagai berikut:
Tujuan
Periode 1975 – 2000 ini menarik untuk dibahas dalam rangka Dies FK-KMK UGM. Berbagai informasi perlu digali untuk pelajaran bagi masa depan FK-UGM yang saat ini sudah berubah menjadi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM. Tujuan pertemuan adalah:
- Membahas pengalaman pelaku-pelaku dalam masa di tahun 1970an – 2000 yang telah menulis buku dalam konteks internasionalisasi FK-UGM. Pada 2025 telah terbit 2 buku yang membahas langsung atau tidak langsung, suasana di masa transisi tersebut.
- Memberikan ide awal untuk penulisan sejarah organisasi FK UGM yang berkembang dari sekolah kedokteran di pedalaman menjadi pusat pendidikan dengan taraf internasional. Diharapkan pertemuan ini dapat menarik perhatian para peneliti sejarah fakultas kedokteran untuk melihat sebuah transisi menuju ke internasionalisasi lembaga.
- Membahas pengalaman untuk perencanaan FK-KMK UGM ke masa depan yang penuh tantangan. Diharapkan ada lesson-learnt dari pengalaman masa lalu untuk perbaikan perencanaan fakultas kedokteran.
Pembicara
Pembicara
Pembicara dalam pertemuan ini adalah 2 penulis buku terkait dengan suasana kampus FK UGM (yang memaparkan dari sudut pandang masing-masing), sebagai pelaku aktif di periode antara 1975 – 2000. Pembicaranya adalah:
- Budiono Santoso Setradjaja, PhD, SpFK: membangun jaringan internasional farmakologi.
Penulis buku: Surat dari Yogya. Cetakan 1: 2025. Yayasan Sawoto Tino Triatmo.
- Laksono Trisnantoro MSc. PhD: mengembangkan keilmuan dan ketahanan finansial FK UGM dengan pendekatan toko kelontong dengan bechmarking universitas di Inggris.
Penulis buku: Pengayaan Ilmu Kedokteran untuk mengatasi Masalah Klinis dan Kesehatan Masyarakat. Cetakan 2: 2025. Gadjah Mada University Press.
Pengantar dan Pembahas:
Dr. Abdul Wahid, M.Hum., M.Phil. (Fakultas Ilmu Budaya jurusan Sejarah UGM)
Waktu dan tempat
Hari, tanggal : Rabu 4 Maret 2026
Pukul : 15.30 – 17.15 WIB
Tempat : Common Room, Gedung Litbang FK-KMK UGM
Link Zoom
Meeting ID : 897 1208 4714
Passcode : 277815
Streaming : PKMK FK-KMK UGM

