Reportase Webinar Perkembangan Departemen-Departemen Klinis di FK-KMK UGM dalam Konteks Dinamika Rumah Sakit Pendidikan (1970–2025)
PKMK-Yogya. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK UGM) menyelenggarakan webinar sejarah kesehatan dalam rangka Dies Natalis ke-80 FK-KMK UGM. Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid dan diikuti oleh peserta dari kalangan dosen, mahasiswa, alumni, praktisi kesehatan, serta masyarakat umum. Webinar mengangkat tema perkembangan departemen-departemen klinis di FK-KMK UGM dalam konteks dinamika kebijakan rumah sakit pendidikan sejak 1970 hingga 2025. Kegiatan ini dipandu oleh Aulia Putri Hijriyah, S. Sej. selaku moderator. Diskusi diarahkan untuk menelusuri relasi historis antara institusi pendidikan kedokteran dan rumah sakit pendidikan, serta bagaimana dinamika kebijakan publik memengaruhi struktur departemen klinis dan pendidikan dokter spesialis.
Sesi Pengantar: Sejarah Pendidikan Kedokteran dan Konteks Kelembagaan FK UGM— Baha’ Uddin, S.S., M.Hum.
Sesi pengantar disampaikan oleh Dr. Baha’Uddin yang menelusuri sejarah pendidikan kedokteran di Indonesia sejak masa kolonial hingga pembentukan fakultas-fakultas kedokteran pascakemerdekaan. Ia menjelaskan bahwa pendidikan kedokteran Indonesia berawal dari sekolah dokter Jawa pada abad ke-19, kemudian berkembang menjadi STOVIA, dan selanjutnya menjadi lembaga pendidikan tinggi kedokteran. Setelah kemerdekaan, beberapa institusi pendidikan kedokteran bertransformasi menjadi fakultas kedokteran di universitas negeri, termasuk Fakultas Kedokteran UGM.
Dalam perbandingan historis, FK UGM memiliki karakteristik yang berbeda dengan FK UI dan FK Unair. Kedua fakultas tersebut mewarisi fasilitas rumah sakit dan laboratorium dari era kolonial, sedangkan FK UGM tidak memiliki warisan aset serupa. Fakultas Kedokteran UGM memulai kegiatan pendidikan dengan memanfaatkan bangunan milik Keraton Yogyakarta di kawasan Ngasem, dengan sarana yang bersifat darurat dan tersebar di beberapa rumah sakit.
Perubahan besar terjadi pada pertengahan 1970-an ketika pembangunan RSUP Dr. Sardjito direncanakan sebagai rumah sakit pendidikan modern yang terintegrasi dengan kampus. Pada 1982, RSUP Dr. Sardjito diresmikan sebagai rumah sakit pendidikan utama, sekaligus melebur beberapa rumah sakit pendidikan sebelumnya. Peristiwa ini menandai transisi penting dari sistem rumah sakit yang tersebar menjadi sistem pendidikan klinik yang terintegrasi.
Sesi Utama: Dinamika Departemen Klinis dan Kebijakan Rumah Sakit Pendidikan — Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D
Pada sesi utama, Prof. Laksono Trisnantoro menyampaikan refleksi historis mengenai perkembangan departemen-departemen klinis FK-KMK UGM dalam kaitannya dengan perubahan kebijakan rumah sakit pendidikan. Laksono menekankan bahwa sejarah kelembagaan pendidikan kedokteran perlu dibaca sebagai proses pembelajaran kebijakan, bukan sekadar catatan masa lalu, karena dinamika hubungan fakultas dan rumah sakit pendidikan sangat dipengaruhi oleh perubahan regulasi serta konteks sistem kesehatan. Beliau menegaskan bahwa FK UGM berkembang dalam kondisi yang berbeda dibanding beberapa fakultas kedokteran lain, karena tidak mewarisi aset rumah sakit pendidikan dari masa kolonial. Kondisi tersebut membuat pendidikan klinis harus dibangun melalui proses improvisasi kelembagaan, hingga akhirnya terintegrasi melalui pembangunan RSUP Dr. Sardjito pada awal 1980-an.
Dalam paparannya, narasumber membagi perkembangan hubungan fakultas kedokteran dan rumah sakit pendidikan ke dalam tiga fase kebijakan. Fase pertama berlangsung sejak peleburan rumah sakit pendidikan ke RSUP Dr. Sardjito hingga lahirnya Undang-Undang Pendidikan Kedokteran tahun 2013. Fase kedua terjadi pada periode 2013–2023, yang ditandai perubahan pengaturan pendidikan dokter spesialis dan relasi kelembagaan fakultas–rumah sakit. Fase ketiga dimulai pasca Undang-Undang Kesehatan 2023 yang membuka arah baru dalam tata kelola pendidikan tenaga medis dan spesialis. Laksono juga menguraikan tiga tipologi hubungan fakultas kedokteran dan rumah sakit pendidikan. Pertama, model fakultas tanpa rumah sakit sendiri yang bergantung pada jaringan afiliasi seperti di Amerika Serikat. Kedua, model integratif, dimana fakultas dan rumah sakit berada dalam satu struktur kelembagaan seperti di Belanda. Ketiga, model hibrida, yaitu fakultas yang memiliki rumah sakit akademik sendiri sekaligus jaringan rumah sakit pendidikan, sebagaimana mulai berkembang di UGM.
Salah satu isu penting yang disoroti adalah posisi residen dalam sistem pelayanan kesehatan. Berdasarkan pengalaman penugasan residen di daerah pasca bencana dan wilayah terpencil, Laksono menunjukkan bahwa residen kerap dipersepsikan sebagai mahasiswa, padahal dalam praktiknya menjalankan fungsi pelayanan yang signifikan. Situasi ini menimbulkan ketegangan antara fungsi pendidikan dan fungsi pelayanan, serta menegaskan pentingnya kejelasan kebijakan mengenai status residen dalam sistem kesehatan. Narasumber menutup paparan dengan menekankan pentingnya pengembangan kajian sejarah kesehatan yang lebih sistematis, termasuk penulisan sejarah departemen klinis dan hubungan kelembagaan fakultas dengan rumah sakit pendidikan. Catatan observasional yang disampaikan diharapkan menjadi bahan awal bagi penelitian sejarah kesehatan di masa depan.
Sesi Diskusi: Sejarah, Kebijakan, dan Masa Depan Pendidikan Klinis
Diskusi menyoroti pentingnya pendekatan historis dalam memahami dinamika hubungan antara fakultas kedokteran dan rumah sakit pendidikan. Peserta menekankan bahwa perkembangan departemen klinis tidak hanya dipengaruhi oleh faktor akademik, tetapi juga oleh kebijakan publik, regulasi pendidikan, serta struktur tata kelola rumah sakit. Sejarah dipandang sebagai sumber pembelajaran untuk merancang kebijakan pendidikan dokter dan spesialis yang lebih adaptif terhadap kebutuhan sistem kesehatan.
Diskusi juga mengangkat pentingnya dokumentasi sejarah kesehatan sebagai bagian dari pengembangan kebijakan berbasis bukti. Gagasan pembentukan komunitas sejarah kesehatan yang melibatkan akademisi lintas disiplin disampaikan sebagai langkah strategis untuk memperkuat penelitian historis dan kebijakan pendidikan kedokteran di Indonesia.
Sesi Penutup
Webinar ini menegaskan bahwa perkembangan departemen klinis FK-KMK UGM tidak dapat dipisahkan dari dinamika kebijakan rumah sakit pendidikan dan perubahan regulasi kesehatan nasional. Sejarah menunjukkan bahwa keterbatasan aset awal tidak menjadi penghalang bagi perkembangan institusi, melainkan justru membentuk karakter adaptif dalam membangun sistem pendidikan klinik.
Dalam kerangka Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), diskusi ini berkontribusi pada SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui penguatan sistem pendidikan tenaga kesehatan; SDG 4 (Quality Education) melalui pengembangan pendidikan kedokteran yang adaptif dan berbasis sistem; serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui pentingnya kolaborasi antara institusi pendidikan, rumah sakit, dan pemerintah dalam pengembangan sumber daya manusia kesehatan.
Reporter:
Fadliana Hidayatu Rizky Uswatun Hasanah, S.Tr.Keb, Bdn. MHPM


